puisi-NGABDUR -MAMAT DAN RATNA
[00:02.89] Kapal merapat, tali-tali diikat menepis renggang.
[00:07.14] Orang-orang turun berkerumun
[00:09.15] membawa cerita dalam kardus bersusun.
[00:11.65] Dulu, tali kapal itu tidak sebanding
[00:14.63] dengan hati yang melekat di tanah ini.
[00:16.90] Kecepatan mesin baling-baling dalam knot
[00:19.90] tak berdaya di depan perahu layar.
[00:22.14] Karena layarnya adalah rindu, membentang menutupi lautan.
[00:26.65] Anginnya adalah cinta, mendorong laksana topan.
[00:30.89] Dan gelombangnya adalah doa,
[00:32.91] berulang bergulung untuk sebuah pertemuan.
[00:36.42] Hingga aku sadar, dari Sabang sampai Merauke
[00:40.40] bukanlah lagu cinta.
[00:42.41] Aceh-Papua bukan tentang kita.
[00:45.88] Nada hilang,
[00:47.41] tersisa desah bergemuruh di dada.
[00:50.64] Jika kita bisa memilih merdeka,
[00:53.90] aku memilih merdeka darimu.
[00:56.40] Isi hatiku terkuras habis meninggalkan luka di atas kapal.
[01:00.14] Ibarat tambang, dikeruk tak bersisa tanpa Amdal.
[01:05.15] Kini aku tahu persamaan cinta dan Amerika,
[01:08.65] sama-sama menyiksa.
[01:11.65] Orang-orang pergi seperti buih di lautan,
[01:14.89] yang tadi banyak kini menghilang, meninggalkan seorang di buritan.
[01:20.41] Akulah kapal tanpa pelabuhan.
[01:22.90] Jika dunia tak memberiku dermaga,
[01:25.65] akan kuminta dirimu di surga.
