diary depresiku
[00:33.42] Malam ini hujan turun lagi
[00:39.00] Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
[00:46.45] Luka yang harusnya dapat terobati
[00:53.61] Yang ku harap tiada pernah terjadi
[01:01.05] Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
[01:08.48] Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
[01:15.41] Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
[01:22.84] Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
[01:33.89] Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
[01:40.79] Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
[01:47.71] Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
[01:55.14] Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
[02:14.55] Mungkin sejenak dapat aku lupakan
[02:20.65] Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
[02:27.57] Atau menggoreskan kaca di lenganku
[02:34.47] Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
[02:42.98] Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
[02:50.37] Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
[02:57.54] Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
[03:04.99] Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan
[03:15.07] Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
[03:21.17] Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
[03:29.95] Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
[03:37.38] Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
[03:50.39] Wajar bila saat ini,
[03:53.33] Ku iri pada kalian yang hidup
[03:58.10] Bahagian berkat suasana indah dalam rumah
[04:04.73] Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidup ku yang kelam
[04:11.65] Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
[04:19.35] Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
[04:32.90] Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
