Belati di Balik Senyum Sutera (Rap) RUAS Pro 1 v4.5 -
[00:01.95] Belati di Balik Senyum Sutera (Rap)
[00:10.96] Di meja bulat kita berkongsi cangkir yang sama
[00:13.35] Menghirup tawa, menyulam mimpi di bawah purnama
[00:16.07] Kau lukis setia dengan dakwat janji yang nampak suci
[00:18.81] Hingga aku terlupa, mawar yang indah itu berduri
[00:21.60] Kusangka kau teduh saat ribut mula bertandang
[00:24.33] Rupanya kau angin yang meniup api ke dalam gudang.
[00:32.53] Engkau saksi setiap parut yang aku sorokkan
[00:35.24] Kukunci rahsia di peti hatimu, penuh keyakinan
[00:38.25] Namun diam-mu bukan tanda menyimpan amanah
[00:41.20] Tapi sedang mengasah lidah agar menjadi panah
[00:43.97] Satu persatu ceritaku kau jual di pasar fitnah
[00:46.70] Membina istanamu di atas maruahku yang ranah.
[00:54.08] Bukan musuh yang membuatkan lututku menyembah bumi
[00:59.74] Tapi tangan yang pernah kupimpin saat kau dalam sepi
[01:04.94] Kini bayangmu memanjang, menggelapkan cahaya nurani.
[01:15.53] Kau tawarkan madu, tapi di dasar cangkir ada empedu
[01:20.76] Kau peluk tubuhku, rupanya mencari letak jantungku
[01:26.12] Kiasanmu manis, selembut kain sutera yang menyapu pipi
[01:31.84] Namun di baliknya, kau genggam belati yang paling ngeri
[01:37.04] Sahabat bukan lagi gelaran, tapi sebuah topeng usang
[01:42.48] Yang kau pakai hanya untuk meragut apa yang aku julang.
[01:59.53] Guruh tak berbunyi, namun hujan tetap membasahi
[02:02.29] Begitulah khianatmu, tanpa suara ia menghiris hati
[02:05.02] Kau bagai anai-anai di tiang seri rumah ukhuwah
[02:07.77] Makan dalam diam, hingga roboh segala marwah
[02:10.51] Kini aku berdiri di runtuhan yang kau tinggalkan
[02:12.97] Melihat kau menari dengan sorak yang kau banggakan.
[02:21.47] Terima kasih kerana mengajarku erti waspada
[02:26.98] Bahawa syaitan tak selalunya punya tanduk di kepala
[02:32.16] Kadang ia hadir dengan wajah yang paling kita cinta
[02:37.84] Dengan suara yang paling merdu membisikkan kata.
[02:48.24] Kau tawarkan madu, tapi di dasar cangkir ada empedu
[02:53.44] Kau peluk tubuhku, rupanya mencari letak jantungku
[02:58.89] Kiasanmu manis, selembut kain sutera yang menyapu pipi
[03:04.59] Namun di baliknya, kau genggam belati yang paling ngeri.
[03:09.73] Biarlah waktu yang menjadi hakim paling adil
[03:15.73] Antara tulusnya aku dan liciknya engkau yang jahil
[03:20.91] Pergilah bawa semua topeng yang kau miliki
[03:26.62] Kerana di hatiku, namamu sudah lama mati.
[03:31.76] Hanya tinggal parut... sebagai tanda aku pernah peduli.
