Lrc Player

Belati di Balik Senyum Sutera (Rap) RUAS Pro 1 v4.5 -

Unknown artist
[03:54.08]·Synced by Guest·
This lyric sheet isn't paired with a song yet, so lines are shown but won't sync or seek.

[00:11.23] Di meja bulat kita berkongsi cangkir yang sama

[00:13.49] Menghirup tawa, menyulam mimpi di bawah purnama

[00:16.22] Kau lukis setia dengan dakwat janji yang nampak suci

[00:18.99] Hingga aku terlupa, mawar yang indah itu berduri

[00:21.80] Kusangka kau teduh saat ribut mula bertandang

[00:24.57] Rupanya kau angin yang meniup api ke dalam gudang.

[00:32.87] Engkau saksi setiap parut yang aku sorokkan

[00:35.12] Kukunci rahsia di peti hatimu, penuh keyakinan

[00:38.45] Namun diam-mu bukan tanda menyimpan amanah

[00:41.21] Tapi sedang mengasah lidah agar menjadi panah

[00:43.97] Satu persatu ceritaku kau jual di pasar fitnah

[00:46.72] Membina istanamu di atas maruahku yang ranah.

[00:54.45] Bukan musuh yang membuatkan lututku menyembah bumi

[00:59.67] Tapi tangan yang pernah kupimpin saat kau dalam sepi

[01:05.16] Kini bayangmu memanjang, menggelapkan cahaya nurani.

[01:15.57] Kau tawarkan madu, tapi di dasar cangkir ada empedu

[01:20.78] Kau peluk tubuhku, rupanya mencari letak jantungku

[01:26.29] Kiasanmu manis, selembut kain sutera yang menyapu pipi

[01:31.89] Namun di baliknya, kau genggam belati yang paling ngeri

[01:37.16] Sahabat bukan lagi gelaran, tapi sebuah topeng usang

[01:42.44] Yang kau pakai hanya untuk meragut apa yang aku julang.

[01:59.64] Guruh tak berbunyi, namun hujan tetap membasahi

[02:02.17] Begitulah khianatmu, tanpa suara ia menghiris hati

[02:05.02] Kau bagai anai-anai di tiang seri rumah ukhuwah

[02:07.82] Makan dalam diam, hingga roboh segala marwah

[02:10.63] Kini aku berdiri di runtuhan yang kau tinggalkan

[02:14.48] Melihat kau menari dengan sorak yang kau banggakan.

[02:21.44] Terima kasih kerana mengajarku erti waspada

[02:27.00] Bahawa syaitan tak selalunya punya tanduk di kepala

[02:31.76] Kadang ia hadir dengan wajah yang paling kita cinta

[02:37.72] Dengan suara yang paling merdu membisikkan kata.

[02:48.34] Kau tawarkan madu, tapi di dasar cangkir ada empedu

[02:53.54] Kau peluk tubuhku, rupanya mencari letak jantungku

[02:59.04] Kiasanmu manis, selembut kain sutera yang menyapu pipi

[03:04.56] Namun di baliknya, kau genggam belati yang paling ngeri.

[03:09.88] Biarlah waktu yang menjadi hakim paling adil

[03:15.69] Antara tulusnya aku dan liciknya engkau yang jahil

[03:20.93] Pergilah bawa semua topeng yang kau miliki

[03:26.42] Kerana di hatiku, namamu sudah lama mati.

[03:31.63] Hanya tinggal parut... sebagai tanda aku pernah peduli.